Selasa, 06 November 2012

Puisi Anak Bangsa



Aku Harus Pulang
Eri Setiawan

Rinduku memeluk tanah desa
Kepada padi yang saling bersahabat
Digerumutinya burungburung yang matanya begitu buas
Lebih buas dari burung hantu yang tertembak semalaman
Namun mereka tak pernah menangis

Aku ingin pulang ibu
Aku tak peduli gedunggedung yang ramah
Aku lebih tak peduli pada lakilaki gagah
Yang membuatkanku kopi setiap malam
Tapi senyumnya beringas

Aku sakit , semakin sakit ibu
Di kota ini semua orang tertawa
Setiap melihat manusia terpeleset  lalu jatuh
Dimakannya lahaplahap kemudian ditinggalkan
Ketika sudah menangis

Aku sungguh ingin pulang ibu
Lampulampu di pinggir jalan di kota ini
Seperti ingin memakanku
Atau melukaiku dengan kekuatan cahayanya
Meskipun mereka diam

Pejalan kaki sepertinya harus mati
Mereka boleh jalan tapi sepertinya
Harus memakai satu jari kaki
Memilukan

O betapa kerasnya kota ini ibu
Mereka seperti hantu yang bertaring begitu runcing
Memasuki rumah menghisap darah para pembantu

Aku harus pulang
Sebelum mataku sebelah terluka
Telingaku tertidur pulas
Sebelum mereka menghisap darahku yang masih segar


Purwokerto, 27 Oktober 2012



Bukit Rindu

Aku pandangi laut dari bukit rindu
Di mana kau berenang bersama ribuan gurita
Yang kukirimkan dari bukit lewat sungai yang juga membelah hati

O sayang,
Aku menyaksikan tubuhmu terseret ombak
Yang tak lagi menjadi biru
Sampai ke tubuh pasir
Sementara ribuan gurita terdampar di tempat lain

Aku membanjiri sungai
Dan kau diam menutup mata
Hingga ombak kembali membawamu
Dan tenggelam menyisakan kata rindu
Yang kurasakan dari sentuhan angit laut
Yang telah sampai ke bukit
Purwokerto, 23 Ok 2012



Sajak Di Ujung Hari

Haruskah  kutuliskan cinta pada pohon-pohon yang diam
sementara seribu rayap mungil mengintai di balik pelepahpelepahnya

Haruskah kutuliskan cinta pada pasirpasir kecil yang masih halus
Sementara seratus ombak bangkit dari ketidurannya

Padahal cinta adalah seribu nyawa yang bersatu padu
Dalam dua air mata yang langit

Haruskah kutuliskan cinta pada selembar kertas yang tak cukup kusam
sementara tariantarian angin siap membawanya kepada air dan api yang jalang

Padahal cinta adalah satu kata yang kutulis dengan tinta hati yang paling rembulan
Dalam janji yang kutabur lewat cahaya

Kau dan aku
Adalah cinta dalam sajak di ujung hari
Yang berenang di tengah laut malam
Purwokerto, 2012



Puisi Isyarat

Di atas bunga mawar kutuangkan segala cinta
Yang terbungkus sekian lama
Dalam kalbu
Pada kupukupu dan lebah
Kuberikan seucap salam perdamaian
Dan pada semut kuberikan secangkir
Yang kuletakkan di tubuh daun

Namun kau masih saja sunyi
Pada temboktembok malam
Tanpa kau tulis sepenggal puisi isyarat

Purwokerto,2012



Aku adalah Lilin.

Aku adalah lilin.
Kecil tuk lenyapkan malam di ujung batinmu.
Secercah asa kau layangkan pada bayu dan kau menuju krista.

Kau ulang detik dan kuawali detik dari detik yang sama.
Kucopot malam tuk kutaburkan pagi pada dinding gelisah.
namun kau daun yang tertiup angin.
Tanpa kau tengok lelehan penegak batang putih.

Dengan sendalu nafasku yang naik ke atas tebing,
Kini menjadi cahaya yang  berasap keringat.
Hingga kuredup,seredup akhir enam.

 Purwokerto, 09 Juni 2012


         
Sepenggal kisah cinta

Kuingin bernyanyi
Semerdu burung di sore ini
Tapi kau halangi

Hati yang telah kau beli ini
dengan lidah yang manis,
perlahan luka
dan aku hanya dapat berkata :
kau cantik, secantik duri yang tajam.

Purwokerto,11-09-2012



Tenggelam Sendiri

Kau panggil gelombang pasang
Di tengah lautan malam
Lepaskan tanganku
Tanpa tenggelamkan tubuh
Dalam permainan

Tapi aku telah tenggelam sendiri
Sebelum kau kirim gelombang pasang
Sementara kau berlari
Mencari ikan-ikan yang lebih jantan di sekitar tepi
Tanpa memanggilku

Purwokerto, 01 Juni 2012



FRAGMEN Cinta Pudar

I
Aku tak menjadi embun pada pagi ini
Sebab daun tak mengizinkan kuterbaring
Di atas hijau tubuhnya
Tuk memeluk kasih pada setiap garis ketulusan

II
Aku diserang nafas malam
Seperti terikat pada tali
Yang dipenuhi duri
Meski pagi sudah memutihkan tubuh
Purwokerto, 25 Juni 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar